Mengenali Revenge Porn, Salah Satu Bentuk Kekerasan Seksual Melalui Dunia Maya

13 July 2020


Oleh : Eti Oktaviani, SH

Revenge Porn atau balas dendam porno adalah bentuk kekerasan seksual. Biasanya dengan pemaksaan atau ancaman terhadap seseorang, umumnya perempuan, untuk menyebarkan konten asusila melalui dunia maya. Bentuknya bisa berupa Rekaman suara, foto atau video yang dibuat oleh pasangan yang biasanya memiliki hubungan intim dengan pengetahuan atau persetujuan orang tersebut, atau dapat dibuat tanpa sepengetahuannya.

Pengetahuan atau persetujuan pasangan, biasanya dibarengi dengan bujuk rayu, paksaan yang terus-menerus, hingga ancaman agar pasangan mau membuat atau mengirimkan konten asusila tersebut.

Revenge Porn biasanya dialami oleh perempuan. Hal tersebut terjadi karena adanya relasi yang timpang dalam sebuah hubungan, perempuan masih dan sering dijadikan objek. Biasanya, pihak perempuan dijanjikan banyak hal, diimingi-imingi sesuatu, serta ungkapan persuasif namun memaksa perempuan untuk mengikuti apa kata pasangan mereka.

Tindakan Revenge Porn bertujuan untuk mempermalukan, mengucilkan dan menghancurkan hidup korban. Pelaku bisa saja pacar, mantan pacar yang ingin kembali atau tidak terima karena hubungan kandas, atau orang yang tidak bisa diidentifikasi.

Apa dampak yang diterima bagi Perempuan Korban?

Perempuan yang menjadi korban Revenge Porn, biasanya akan mengalami trauma dan stres karena merasa direndahkan dan tidak berharga. Lagi, perempuan harus menanggung konsekuensi yang lebih besar dibanding laki-laki, perempuan kembali di-korban-kan oleh masyarakat, misalnya perempuan harus menerima kritik, kecaman dan anggapan buruk dari masyarakat. Apa yang harus dilakukan ketika menjadi korban Revenge Porn?

1. Berbagi dan berceritalah kepada orang terdekat yang kamu percaya. Kamu akan merasa lega karena tidak menanggung semuanya sendirian. Dukungan dari orang terdekat akan membuat kamu lebih aman dan kuat.

2. Menonaktifkan Media Sosial. Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin juga menyarankan korban "menghilang" atau bahkan menonaktifkan semua media sosial. Dengan menonaktifkan media sosial, kamu akan terhindar dari pembicaraan orang lain di media sosial yang malah akan membuat kamu semakin tertekan secara psikologis.

3. Simpan bukti-bukti penyebaran konten. Jangan lupa, kamu harus memastikan semua bukti-bukti terkait, misalnya percakapan dengan pasangan saat dia membujuk rayu atau memaksamu untuk melakukan sesuatu hal yang membuat pasangan memiliki konten pribadi milikmu. Serta, bukti-bukti bahwa pasanganmu mengancam akan menyebarkan konten pribadi milikmu. Tak kalah penting, kamu juga harus menyimpan unggahan pasangan atau orang lain tentang konten pribadi kamu di media sosial.

4. Tukar pikiran dengan penyintas. Saat ini, banyak penyintas (orang yang berjuang dari kekerasan/ Survivor of Violence) yang berani berbicara dan memperjuangkan hak-hak mereka. Penyintas dahulunya adalah korban loh. Mereka biasanya sudah berjuang dari dampak kekerasan seksual yang mereka alami. Dengan memulai pemulihan, melaporkan dan mau keluar dari situasi yang luar biasa yang mengguncang diri mereka.

5. Mencari bantuan psikolog. Jika kamu merasa sangat takut dan tidak nyaman dengan dirimu, Psikolog menjadi hal yang sangat penting untuk memberikan konseling atau pemulihan atas trauma yang sedang kamu hadapi.

6. Mencari Bantuan Hukum. Saat ini, selain organisasi-organisasi perempuan, banyak lembaga bantuan hukum yang sudah concern terhadap isu ini. Datanglah, cari yang terdekat. Mintalah bantuan kepada mereka. Kamu punya hak hukum untuk meminta pertanggungjawaban hukum kepada pelaku. Jika kamu berada di Jawa Tengah, kamu bisa menghubungi mereka. Misalnya, YLBHI-LBH Semarang, Lrc-KJHAM, LBH Apik Semarang, SPEKHAM, LPP Sekar Jepara, dan lain sebagainya.

7. Terima dan hargai diri sendiri. Yakinlah bahwa siapa-pun memiliki masalah, tak terkecuali kamu. Masalah hanya akan selesai jika kamu berani dan berupaya menyelesaikannya. Jika merasa bersalah dengan apa yang pernah kamu lakukan, itu tidak masalah. Itu tidak membuat dirimu tidak bernilai.

Categories : Opini

Bagikan

Comment

Berita Utama